Jumat, September 11, 2009

Karakteristik hamba beriman


Karakteristik Kemuliaan Hamba Beriman
Dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani, berbagai macam cara yang ditempuh oleh manusia untuk mencari sesuatu yang dapat melegahkan jiwanya, mencari kemuliaan di tengah-tengah manusia. Ketika kebutuhan jiwa terpenuhi, perasaan bahagiapun tersegarkan. Namun kadang kala kebanyakan orang melupakan hakikat dan karakteristik kemuliaan yang sebenarnya yang Allah SWT gambarkan di dalam Al-Quran.
di dalam Al-Quran, ada beberapa karakter :
1. Orang-orang yang mulia yaitu mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tahttp://www.blogger.com/img/blank.gifk dibuat-buat, tak pamer, tak sombong, tak memalingkan pipi dan tak tergesa-gesa. Karena berjalannya manusia sebagaimana halnya seluruh gerakan, adalah ungkapan dari kepribadian, dan perasaan-perasaan yang ada dalam dirinya. Sehingga jiwa yang tenang, lurus, serius dan mempunyai tujuan, akan menampilkan sifat-sifat ini dalam cara berjalan orang tersebut. Al-Quran menggambarkan:
الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا
"Yaitu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati"
Maksud ayat ini sebagaimana penjelasan ustadz Sayid Qutb: "Bukanlah makna kalimat ini adalah bahwa mereka berjalan dengan gontai, kepala tertunduk, lemah dan lesuh, seperti dipahami sebagian orang yang ingin menampilkan ketakwan dan kesholihah. Rosulullah sendiri jika berjalan maka beliau berjalan dengan tegap. Beliau adalah orang yang paling cepat berjalan, paling baik jalannya, dan paling tenang."
Abu Hurairoh berkata: "Saya tak melihat sesuatu yang lebih indah dari Rosulullah, seakan-akan matahari berjalan di wajah beliau. Saya tidak melihat orang yang lebih cepat jalannya dari Rosulullah, seakan-akan bemi tertekuk bagi beliau. Sehingga ketika kami berusaha mengejar ritme berjalan beliau, kami melakukannya dengan cukup sulit. Padahal beliau berjalan dengan tenang tanpa kesulitan."
2. Mereka adalah orang-orang yang tersibukkan malam-malam mereka dengan sujud kepada Zat yang Maha Mulia. Mereka terjaga di tengah malam ketika manusia tidur. Mereka sujud dan berdiri mengerahkan hati mereka ke Arsy Ar-Rahman yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
Allah SWT berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا ( الإسراء: 79 )
"Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang mulia".

Orang-orang yang mulia tak pernah mengharapkan kemuliaan dari manusia, karena sumber kemuliaan adalah dari Allah semata.
3. Kesederhanaan dan keseimbangan dalam kehidupan mereka. Hal ini diungkapkan oleh Al-Quran sebagaimana firman Allah:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (الفرقان: 67 )
"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."

Ini adalah sifat islam yang diwujudkan dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Juga menjadi arah pendidikan dan hukum islam yang dibangun atas dasar keseimbangan dan keadilan.
Seorang muslim tidaklah bebas mutlak dalam menginfakkan dan membelanjakan harta pribadinya sekehendak hatinya seperti yang terdapat dalam system kapitalis, dan pada bangsa-bangsa yang hidupnya tak diatur oleh hukum ilahi dalam semua bidang. Namun penggunaan uang itu terikat dengan aturan menyeimbangkan antara dua perkara yaitu antara sikap berlebihan dalam menginfakkan dan terlalu menahan. Karena sikap berlebihan atau terlalu menahan harta menghasilkan ketidak seimbangan di tengah masyarakat dan bidang ekonomi. Menahan harta menimbulkan masalah-masalah, demikian juga melepaskannya tanpa kendali. Padahal harta itu adalah alat sosial untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan sosial.
Sementara Islam mengatur segi kehidupan ini dengan memulainya dari jiwa individu. Sehingga, menjadikan keseimbangan itu sebagai satu karakter dari karakter-karakter keimanan. Allah berfirman:
وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا
"… dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." (Al-Furqon: 67)
4. Orang-orang yang mulia senantiasa menjaga kemurnian tauhid di dalam dadanya, menjaga kehormatan orang lain dan menjaga dirinya dari perbuatan dosa-dosa besar. Hal ini digambarkan oleh Allah dalam firmannya:

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)". (Al-Furqon:
5. Mentauhidkan Allah adalah pondasi akidah islamiyah. Menghindarkan diri dari menganiyaya orang lain, membunuh manusia tanpa hak adalah persimpangan jalan antara kehidupan sosial yang tenang yang padanya kehidupan manusia dihormati dan dihargai dengan kehidupan hutan yang padanya seorang tak merasa aman terhadapan nyawanya. Adapun mencegah diri dari perbuatan zina merupakan persimpangan jalan antara kehidupan yang bersih yang padanya manusia merasakan peningkatan dirinya dari perasaan hewani yang hitam pekat.
Karena ketiga sifat ini menjadi persimpangan jalan antara kehidupan yang pantas bagi manusia yang mulia di mata Allah dengan kehidupan yang murah dan rendah hingga ke tingkatan hewan. Maka Allah menyebutnya dalam karakter-karakter para hamba Allah. Mereka adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah.
Diantara karakter kemuliaan yang digambarkan Al-Quran terhadap hamba beriman adalah: Mereka tidak memberi kesaksian palsu maupun ucapan dusta dan tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak berfaedah. Karena orang yang beriman mempunyai urusan tersendiri yang menyibukkannya dari kelalaian, hura-hura dan berbicara kosong. Orang-orang beriman tak memiliki waktu kosong untuk bermain-main yang tak berarti, karena ia disibukkan dengan tuntutan keimanannya, dakwahnya dan beban-beban tugasnya yang ia tanggung. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
"Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqon: 72)
Orang-orang yang mulia juga adalah orang-orang yang segera sadar ketika diingatkan dan mudah mengambil pelajaran jika diberi nasehat, terbuka hatinya untuk menerima ayat-ayat Allah yang mereka terima dengan pemahaman dan mengambil pelajaran. Sehingga, mereka mengimaninya dengan keimanan yang penuh dengan kesadaran, bukan fanatisme buta dan tidak menenggelamkan wajah! Jika mereka bersemangat membela aqidah mereka, membela agama mereka, membela saudara seiman mereka, maka hal itu mereka lakukan dengan sikap semangat seorang yang mengetahui, penuh kesadaran dan hati terbuka.
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآَيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
"Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta." 9Al-Furqon:73)
Karakteristik yang terakhir digambar oleh Al-Quran melalui firman Allah:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (74)
"Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqon: 74)
Ini adalah perasaan fitrah keimanan yang mendalam. Perasaan senang untuk menambah bilangan orang-orang yang berjalan di jalan Allah. Tidak cukup kesholihahan adalah milik pribadi, orang-orang yang beriman juga selalu menyenandungkan doa-doa untuk menambah jumlah orang-orang menyembah Allah. Dan yang pertama adalah keturunan dan pasangan mereka . Karena mereka itu adalah orang-orang yang terdekat dengan mereka, mereka itu adalah amanah yang paling pertama yang akan ditanyakan kepada mereka.
Mereka juga berkeinginan agar orang-orang beriman merasakan bahwa ia menjadi teladan bagi kebaikan, dan dijadikan contoh oleh orang-orang yang ingin menuju Allah. Dalam hal ini, tidak ada indikasi kesombongan atau merasa hebat karena suluruh rombongan berada dalam perjalanan menuju Allah. Itulah hamba-hamba Allah yang maha penyayang, yang akan mendapat kemuliaan sesungguhnya berupa surga di sisi Allah.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحيمُ.

Filosofi Sapu Lidi


Filosofi Sapu Lidi
Oleh : Endah Nur Rohmi

''Dan, janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.'' (QS Ali Imraan [3]: 105).

Mari, kita mengingat perumpamaan tentang sapu lidi. Beberapa lidi yang disatukan, kemudian diikat bagian pangkalnya, dapat digunakan untuk bersih-bersih ketimbang hanya sebatang saja. Filosofi di balik perumpamaan itu tak lain adalah persatuan.

Kehidupan manusia dapat berjalan baik, sebagaimana sebuah sapu lidi, jika manusia mempererat ikatannya. Disadari ataupun tidak, manusia membentuk kumpulan berdasarkan ikatan tertentu. Umat Islam merupakan kumpulan dari para Muslim yang terikat oleh kesamaan akidah.

Menjadi ujian bagi akidah umat Islam manakala sebuah konflik memicu perpecahan di dalamnya. Akankah kita membiarkan perselisihan itu terus terjadi dan melemahkan kekuatan umat Islam? Apakah kita mengoreksi diri? Sudahkah akidah Islam dipegang teguh?

Akidah itu mewujud dalam keyakinan di hati, ucapan, dan tindakan. Konsekuensinya adalah bersedia menjadi insan yang bertakwa. Kuat lemahnya akidah tampak dari sejauh mana memosisikan perintah dan larangan-Nya.

Di sinilah letak fungsi koreksi, diperlukan orang lain untuk menilai perbuatan kita. Karena itu, ada kewajiban untuk saling menasihati (QS Al Ashr [103]:3). Hanya saja, manusia memang berbeda dengan lidi. Terdapat potensi perbedaan satu sama lain. Terkait hal ini, Sang Pencipta telah memberikan batas-batasannya.

Selama itu tidak mengutak-atik akidah yang sifatnya tidak dapat diganggu gugat, perbedaan tidak sepatutnya menjadi persoalan. Ketika akal manusia tidak digunakan untuk memikirkan kebenaran secara benar dan tindakan yang diambil tidak pula tepat serta memperturutkan hawa nafsu dengan enggan mendengarkan nasihat orang lain, perselisihan pun muncul yang mengakibatkan perpecahan.

Jika perselisihan itu timbul dan perpecahan umat ada di depan mata, satu-satunya jalan adalah kembali kepada akidah Islam. Sebagaimana lidi yang dengan pasrah menerima dirinya diikat, umat Islam seharusnya juga demikian, bersedia dan rela diikat dengan akidah.

Nasihat ini berlaku bagi semua pihak di dalam umat ini, baik aparat pemerintah maupun masyarakat umum. Akidah merupakan keterangan yang jelas dari Sang Pencipta. Tentunya, kita tidak ingin umat berselisih dan bercerai-berai, padahal akidah telah mengikat kita. Atau, maukah kita termasuk orang-orang yang disebutkan ayat di atas? Naudzubillahi min dzalik!




sumber : Republika

Bekal Hidup


Bekal Hidup
Diceritakan, pada masa lalu penduduk Yaman tidak suka membawa bekal dalam perjalanan, termasuk perjalanan ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Mereka merasa cukup dengan tawakal kepada Allah. Namun, mereka ternyata menjadi telantar, lalu melakukan hal-hal yang tak terpuji, seperti meminta-minta, mencuri, dan merampas. Lalu, Allah menurunkan ayat ini, ''Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal (cerdas).'' (Al-Baqarah: 197).

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ (١٩٧)

Bekal yang dimaksud dalam ayat di atas, menurut pakar tafsir al-Razi, mengandung dua pengertian, yaitu bekal fisik material (bekal dunia) dan bekal mental spiritual (bekal akhirat). Ini karena perjalanan yang dilakukan oleh manusia juga ada dua macam, yaitu perjalanan di alam dunia (safar fi al-dunya) dan perjalanan keluar dari alam dunia menuju negeri akhirat (safar min al dunya).
Kedua perjalanan ini membutuhkan bekalnya sendiri-sendiri. Perjalanan di alam dunia membutuhkan bekal makanan, minuman, kendaraan, dan sejumlah uang, sedangkan perjalanan menuju akhirat membutuhkan bekal yang lain lagi, yaitu iman dan takwa.
Perintah berbekal dalam perjalanan di dunia, menurut al-Razi, mengandung pula perintah agar manusia mengambil dan mempersiapkan bekal yang lebih baik lagi dalam perjalanan menuju akhirat. Dalam Alquran, perkara dunia dan akhirat itu sering disebut bersama. Selain tentang bekal di atas, perhatikan pula misalnya mengenai perintah berpakaian. Ketika disebut pakaian fisik, maka disebut pula pakaian takwa, libas al-taqwa (Al-A'raf: 26).
Dikatakan pula di sini bahwa pakaian takwa adalah sebaik-baik pakaian, sebagaimana bekal takwa adalah sebaik-baik bekal. Bekal takwa seperti dikemukakan di atas merupakan bekal yang paling baik bagi manusia. Takwa secara bahasa bermakna sesuatu yang dapat menjaga dan memelihara diri dari kerusakan. Menurut Sheikh Muhammad Abduh, takwa adalah perkara yang membuat seseorang terjaga dan terpelihara dari azab dan murka Allah. Perkara itu tidak lain adalah iman, amal saleh, dan investasi kebaikan (al khair) dan kebajikan (al-birr).
Dalam suatu pengertian takwa dipandang sebagai akumulasi dari keseluruhan nilai yang diajarkan oleh Islam. Dalam pengertian ini, takwa menunjuk pada satuan-satuan nilai yang banyak sekali jumlahnya yang secara keseluruhan menggambarkan semangat dan cita-cita ideal Islam yang harus diwujudkan oleh kaum beriman. Dalam Alquran, adil dipandang sebagai nilai takwa (Al-Maidah: 8). Iman kepada Allah, shalat dan zakat, juga dinamai takwa (Al-Baqarah: 2-3). Begitu pula, memberikan infak, mengendalikan amarah, memaafkan, dan berbuat baik kepada sesama manusia, semuanya dinamakan takwa (Ali Imran: 133-135).
Takwa menjadi bekal terbaik, karena ia akan mengantar manusia memperoleh kebahagiaan abadi dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT di akhirat kelak. ''Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai di tempat yang disenangi (surga) di sisi Tuhan Yang Berkuasa.'' (Al-Qamar: 55). Semoga kita masih memiliki cukup waktu untuk memperbanyak bekal. Amin

Aspek Puasa


Oleh : Abu AbduLLAH
“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah, 2:183)
“Wahai orang-orang yang beriman…” : Kata ini bermakna takhshish (pengkhususan) dari Sang Maha Pencipta langit dan bumi kepada sedikit di antara makhluk-NYA yang dicintai-NYA. Maka panggilan itupun begitu lembut dan penuh kasih, dengan menyebutkan aspek kedekatan dan keakraban-NYA dengan kelompok tersebut. “Wahai orang-orang yang telah beriman…” Pantaslah bahwa diriwayatkan jika para sahabat RA ketika mereka sedang berbicara atau melakukan suatu kegiatan jika mereka mendengar kata “wahai orang-orang yang telah beriman…” maka mereka seketika terdiam dengan khusyu’ mendengarkan apa kelanjutan firman-NYA, jika mereka telah melaksanakan perintah tersebut maka mereka bersyukur dan jika belum maka mereka berusaha untuk segera melaksanakannya.
“telah diwajibkan atasmu berpuasa” : Kata “kutiba” bermakna “furidha ‘alaykum” (telah diwajibkan atas kalian semua yang telah beriman) untuk berpuasa. Kewajiban tersebut dijelaskan oleh ayat ini dan juga oleh beberapa hadits shahih, di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra : “Islam itu dibangun atas 5 hal, bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali ALLAH, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan berhaji ke BaituLLAH jika memiliki kemampuan.” Demikian pula bahwa para ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (kontemporer) yang shalih telah ijma’ (bersepakat) tentang wajibnya puasa Ramadhan, sehingga jika ada yang menyatakan bahwa puasa Ramadhan tidak wajib maka perkatannya itu tertolak.
“sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” : Puasa adalah juga merupakan syariat para nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dan iapun juga merupakan syariat orang-orang shalih dimasa terdahulu. Puasa mereka semua adalah jauh lebih berat dari puasa kita (ummat Muhammad SAW). Lihatlah bagaimana puasa nabi yang shalih Zakariyya AS yang selain tidak makan dan minum juga TIDAK BOLEH BERBICARA (QS. Maryam, 19:10) kecuali hanya boleh memberikan isyarat saja (QS Ali Imran, 3:41), demikian pula Maryam AS yang sezaman dengannya (QS Maryam, 19:26). ALLAH SWT pun menjelaskan kepada kita tentang puasanya Thaluth AS yang hanya dibolehkan berbuka hanya dengan seteguk air saja dan tidak boleh lebih (QS al-Baqarah, 2:249). Atau juga puasa nabi Daud AS yang disebut sebagai sebaik-baik puasa oleh nabi Muhammad SAW, yaitu sehari puasa dan sehari berbuka seumur hidupnya.
“mudah-mudahan kalian menjadi orang yang bertaqwa” : Puasa yang ikhlas dan benar akan mengantarkan pelakunya kepada sifat taqwa. Tidaklah setiap amal dalam Islam kecuali memiliki faidah kepada yang melakukannya, tentang shalat ALLAH SWT menyebutkan bahwa ia dapat mencegah pelakunya dari perbuatan yang keji dan munkar (QS al-Ankabut, 29:45), tentang zakat ALLAH SWT menyebutkannya sebagai untuk membersihkan (harta) dan mensucikan (hati) mereka (QS at-Taubah, 9:103), dst. Taqwa bukanlah sebuah perhentian tapi ia adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berhenti sampai kita menghadap ALLAH SWT, hal ini digambarkan dalam hiwar (diskusi) antara 2 orang sahabat mulia yaitu Umar bin Khattab ra dan Ubay bin Ka’ab ra, kata Umar ra : “Wahai Ubay apakah taqwa itu menurutmu?” Jawab Ubay ra : “Wahai Amirul Mu’minin pernahkah anda melalui suatu jalan yang penuh dengan duri?” Maka jawab Umar ra : “Pernah.” Kata Ubay ra : “Lalu apa yang anda lakukan ketika itu?” Jawab Umar ra : “Aku bersungguh-sungguh dan berhati-hati (IJTAHADTU WA SYAMMARTU).” Maka kata Ubay ra : “Itulah yang disebut taqwa.”
(Bersambung insya ALLAH…)

Makna Hidup Manusia


Apa sih makna hidup ??

Ulama besar, Al Ghazali, pernah berkata bahwa pemahaman hidup yang dangkal adalah sebuah tindak ‘kriminal’ yang keji. Disebut demikian karena pemahaman yang dangkal ini akan membawa kepada ketersesatan dari jalan menuju akhirat yang bahagia. Semisal, jika seseorang memandang hidup dengan dangkal, boleh jadi ia akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta, tidak memperdulikan apakah itu halal ataukah haram.

1. Hidup ini kesemuanya adalah ujian dari Alloh
Hidup adalah untuk menguji apakah seorang manusia bersyukur atau kufur/tidak bersyukur kepada Alloh.

Ujian dalam hidup kita bukan saja kesulitan ataupun musibah, namun juga berupa nikmat atau kemudahan dari Alloh, seperti keluarga, suami, istri, anak-anak, harta, kekuasaan, pangkat, dsb.

2. Kehidupan dunia ini lebih rendah dibandingkan kehidupan akhirat.

3. Kehidupan dunia ini hanya sementara

Boleh jadi saat ini kita dalam kondisi sehat wal ‘afiat, gagah, cantik, kulit mulus, dll. Tapi ada saatnya ketika kita kemudian menjadi tua, keriput, lemah, pikun, dan akhirnya dipanggil ke sisi Alloh.

4. Kehidupan ini adalah ladang amal untuk kesuksesan akhirat

Ali bin Abi Thalib ra. Berkata bahwa sesungguhnya hari ini adalah hari untuk beramal bukan untuk hisab (perhitungan) dan esok (akhirat) adalah hari perhitungan bukan untuk beramal. Ketika seseorang meninggal dunia maka terputuslah semua amal perbuatannya dan ia tinggal menunggu masa untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya di dunia. Bekal kita adalah ibadah kepada Alloh. Ibadah bukan sekedar sholat atau zakat, tetapi segala aktivitas hidup kita akan bernilai ibadah jika diniatkan karena Alloh.